This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sunday, March 13, 2016

Pengertian, Tujuan, Manfaat, dan Cara Puja Bakti

A. Pengertian, Tujuan, Manfaat, dan Cara Puja
Bakti
1. Pengertian Puja Bakti
          Sebagai umat Buddha yang berbakti, sebaiknya setiap hari Minggu melaksanakan puja bakti/kebaktian. Puja bakti biasanya dilaksanakan waktu pagi hari. Bila kamu pernah mengikuti puja bakti, kamu adalah manusia yang meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa. Manusia yang meyakini Tuhan akan menganut dan memeluk salah satu agama dan
akan melaksanakan ibadah, kebaktian atau puja bakti di tempat ibadah mereka sesuai dengan ketentuan agama masing-masing. Puja bakti/ kebaktian, yaitu upacara, ritual atau sembahyang yang dilakukan sebagai ungkapan keyakinan (Saddha) terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Buddha, Dhamma dan Sangha (TriRatna).
2. Tujuan Melaksanakan Puja Bakti
          Puja bakti/kebaktian dalam agama Buddha dilakukan dengan cara yang berbeda-beda dan menggunakan doa yang berbeda sesuai dengan aliran masing-masing karena agama Buddha juga banyak aliran dan banyak sekte. Dalam kebaktian, ada yang menggunakan bahasa Mandarin, bahasa Sanskerta, bahasa Pali, bahasa Jepang, Tibetan, dan bahasa yang lain. Meskipun cara dan doa yang dibacakan ketika kebaktian
berbeda-beda, namun memiliki tujuan yang sama, yaitu seperti berikut.
a.    Menghormati dan merenungkan sifat-sifat luhur TriRatna (Buddha, Dhamma dan Sangha)
b.    Meningkatkan keyakinan (Saddha) dengan tekad (Aditthana) terhadap TriRatna
c.    Mengembangkan empat sifat luhur (Brahma Vihara), yaitu cinta kasih, belas kasih, simpati, dan batin seimbang
d.    Mengulang atau membaca dan merenungkan kembali khotbah khotbah Buddha
e.    Melakukan Anumodana, yaitu membagi perbuatan baik kepada makhluk lain
f.     Berbagi kebajikan kepada semua makhluk
          Hal yang terpenting saat melakukan puja bakti adalah pikiran bersih, penuh konsentrasi agar indra-indra terkendali saat membaca doa untuk mengagungkan TriRatna. Paritta yang dibaca dalam puja bakti berisidoa agar semua makhluk berbahagia.
Puja bakti yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh penghayatan akan bermanfaat besar, yaitu seperti berikut.
a.    Keyakinan (saddha) dan bakti kepada TriRatna akan bertambah
b.    Empat sifat luhur (brahma vihara) akan berkembang
c.    Indra (samvara) akan terkendali karena pikiran diarahkan untuk pujabakti
d.    Menimbulkan perasaan puas (Santutthi) karena telah berbuat baik
e.    Menimbulkan kebahagiaan (Sukha) dan ketenangan batin.
3. Manfaat dan Tata Cara Puja Bakti
Dalam agama Buddha, puja bakti (kebaktian) bukan hanya merupakan kewajiban bagi umat, tetapi menjadi kebutuhan agar memetik manfaat bagi kehidupan. Manfaat yang dapat diperoleh dari melaksanakan puja bakti antara lain.
a.    Menambah keyakinan (Saddha)
b.    Memiliki cinta kasih, belas kasihan, rasa simpatik, dan keseimbangan batin (Brahma Vihara)
c.    Perasaan puas (Santutthi)
d.    Kedamaian (Shanti)
e.    Kebahagiaan (Sukkha)
          Manfaat puja bakti dapat juga untuk melakukan penyadaran, di depan altar Buddha yakni seperti syair di bawah ini:
Syair Penyadaran Diri
Di hadapan Buddha aku menyesali
Kesalahan yang aku lakukan kepada mereka
Secara tulus dan terbuka
Semoga batinku menjadi tenteram

Jika dengan tindakan, ucapan, dan pikiran
Orang lain telah berbuat salah kepadaku
Aku dengan tulus memaafkan semuanya
Di hadapan Buddha Yang Mahasempurna
          Tata urutan dan cara puja bakti disesuaikan dengan Vihara dan aliran yang dianut oleh umat yang melaksanakan puja bakti. Tata urutan puja bakti yang sering dilakukan adalah seperti berikut.
a.  Puja bakti diawali dengan membacakan Paritta atau Sutra.
b.  Meditasi untuk mengembangkan batin .
c.   Bhikkhu, Pandita, penceramah atau guru agama memberikan ceramah atau cerita.
d.  Berdana (dana paramita) untuk melatih kemurahan hati .
e.  Melakukan pelimpahan jasa kepada leluhur agar para dewa dan naga yang perkasa memberkati kita semua.
f.   Puja bakti ditutup dengan membacakan Paritta atau Sutra penutup. Makna Paritta yang dibaca ketika puja bakti adalah mengulang khotbah Buddha, mengembangkan sifat luhur dan mendoakan agar semua makhluk berbahagia.
B. Macam-Macam Puja Bakti
1. Kebaktian Umum
          Kebaktian umum adalah kebaktian yang dilaksanakan secara bersama-sama di Vihara, Cetiya ataupun Candi. Contoh kebaktian umum, yaitu kebaktian dewasa, usia lanjut (manula), kebaktian sekolah minggu, dan kebaktian hari raya. Kebaktian umum dibedakan menjadi dua macam, yaitu kebaktian yang dihadiri Bhikkhu dan kebaktian yang tidak dihadiri oleh Bhikkhu.Permohonan tuntunan Paritta Tisarana Pancaīla (Arādhanā Tisarana Pancaīla) dibacakan agardibimbing Bhikkhu berlindung kepadaTriRatna dan tekad melaksanakan Pancasila. Ketika Bhikkhu akan ceramah, umat membacakan Paritta permohonan ceramah (Arādhanā Dhammadesanā).
2. Kebaktian Sekolah
          Kebaktian sekolah adalah kebaktian yang dilaksanakan sebelum dan sesudah pelajaran agama Buddha dilaksanakan. Di dalam kebaktian ini, pembacaan doa tidak mengikat dan mengikuti kebiasaan di sekolah tersebut. Pada umumnya, sebelum pelajaran agama Buddha dimulai, siswa dan guru membacakan Paritta Namaskara Gatha. Setelah pelajaran selesai, siswa membacakan kembali Namaskara Gatha atau Vihara Gita Namaskara. Tujuan kebaktian di sekolah agar para siswa lebih yakin terhadap kebenaran Dharma Buddha. Tujuan lainnya ialah memberpengaruh batin siswa agar lebih tenang dan konsentrasi dalam belajar. Hal yang perlu diperhatikan dalam kebaktian di sekolah adalah mempersiapkan suasana tenang dan batin yang damai. Suasana tenang dan damai akan membuat pembacaan Paritta lebih hikmat.
3. Kebaktian Pribadi
          Kebaktian pribadi adalah kebaktian yang dilakukan oleh perorangan atau keluarga yang  biasanya dilaksanakan di rumah. Akan tetapi, terdapat pula umat Buddha yang melaksanakan kebaktian pribadi di Vihara ataupun Cetiya.
Pengatur jalannya puja bakti adalah pemimpin kebaktian. Dalam puja bakti, terdapat sikap hormat yang perlu dilakukan agar lebih hikmat. Sikap hormat ketika puja bakti, yaitu seperti berikut;
a.  Bersujud (Namaskara); dengan lima titik menyentuh lantai
b.  Beranjali; dengan merangkapkan kedua tangan di depan dada.
c.   Berjalan (Pradaksina/Padakkhina); dengan mengelilingi altar/candi searah jarum jam sebanyak tiga kali, tangan bersikap anjali dan tanpa menggunakan alas kaki.

4. Sopan Santun di Vihara
Mengunjungi Vihara sebaiknya menunjukkan tata krama atau sikap hormat dan sopan dengan mematuhi peraturan di Vihara tersebut. Dengan melakukan tata krama mematuhi peraturan di Vihara, puja bakti dapat berlangsung dengan tertib dan hikmat, tenang dan nyaman. Tata krama yang ada di Vihara contohnya adalah seperti berikut.
1. Tata Krama Berpakaian
a.            Berpakaian rapi dan sopan
b.            Melepaskan alas kaki, topi maupun jaket
c.            Meletakkan alas kaki pada tempat yang disediakan
2. Tata Krama Pikiran
a.            Pikiran bersih saat memasuki halaman Vihara
b.            Menjaga kesadaran agar pikiran tetap bersih dan suci
3. Tata Krama Ucapan
a.            Memberi salam dengan bersikap anjali kepada Bhikkhu dan sesama umat Buddha
a.            Bersikap ramah kepada siapa saja
b.            Mengikuti puja bakti dengan tertib dan hikmat
c.            Membaca doa dan paritta dengan tenang;
4. Tata Krama dalam Perbuatan
a.            Memasuki ruang puja bakti dengan bersikap anjali
b.            Sebelum dan setelah meninggalkan ruang puja bakti, bersujud (Namaskara) di hadapan altar Buddha
c.            Mendengarkan ceramah atau cerita dengan tenang
d.            Bermeditasi dengan tenang dan serius
e.            Bersikap sopan, tenang, tidak bercanda atau berisik, dan tidak lari-larian
f.             Mematikan mobile phone ketika puja bakti
g.            Membuang sampah pada tempatnya
h.            Tidak makan atau minum ketika di ruang puja bakti
i.             Tidak menjulurkan kaki ke depan altar
5. Tata Krama terhadap Bhikkhu/Bhikkhuni
a.            Menghormat dengan bersikap anjali memberi salam atau bernamaskara
b.            Dengan sopan memanggil Bhikkhu dengan panggilan “Bhante”
a.            dan Bhiksu dengan panggilan “Suhu” atau “Sefu”
b.            Berhenti sejenak jika berpapasan dengan anggota Sangha Bangun jika sedang duduk, dan memberi tempat duduk yang baik kepada anggota Sangha
c.            Duduk di tempat yang tidak lebih tinggi dari Bhikkhu/Bhikkhuni
d.            Bila bicara dengan anggota Sangha yang berbeda jenis, sebaiknya dilakukan di tempat terbuka.
RANGKUMAN
·         Sebelum melaksanakan kebaktian, batin/pikiran harus baik dan tenang agar kebaktian berjalan dengan hikmat.
·         Kebaktian dibedakan menjadi tiga, yaitu kebaktian di Vihara, sekolah, dan kebaktian di rumah/pribadi.
·         Saat puja bakti diwajibkan menjaga tata tertib yang telah ditentukan Vihara.
·         Bukan hanya saat melaksanakan kebaktian saja sopan santun harus dijaga, tetapi saat berada di mana pun kita wajib menjaga sopan santun.

Sumber: Buku SD Kelas IV

Pujimin dan Suyatno. 2014. Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti. Edisi Revisi. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Wednesday, March 9, 2016

Cerita Singkat Angulimala

Kisah Angulimala
Dikisahkan Yang Mulia Angulimala sedang melakukan
pindapata.
Pindapata untuk mengumpulkan dana makanan.
Seseorang melempar tongkat dan mengenai tubuhnya.
Orang lain melempar pecahan tempayan, mengenai kepalanya.
Kepalanya menjadi terluka.
Darah mengalir dari kepalanya.
Jubah luarnya menjadi sobek.

Yang Mulia Angulimala menemui Sang Buddha.
Sang Buddha memberi nasihat.
Semua itu akibat dari perilakunya.
Perilaku sebelum menjadi bhikkhu.
Dahulu, Angulimala adalah penjahat.
Orang yang suka menyakiti orang lain.
Dia memotong jari orang sampai 999 jari.
Ia menjadi sadar setelah bertemu Sang Buddha.
Kemudian, ia bertekad menjadi bhikkhu.
Perbuatan buruk merugikan diri sendiri dan orang lain.
Perbuatan buruk itu dapat dilakukan melalui:
1. ucapan
2. pikiran
3. jasmani
Jika selalu berbuat buruk, akan memperoleh teguran
Jika sering berbuat buruk, akan dijauhi teman.

Orang yang selalu berbuat buruk akan menderita.
Sumber: Buku SD Kelas II

Supriyadi dan Dinata, P .2014. Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti. Cetakan Ke-1. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Cerita Kisah Bangau dan Kepiting

Kisah Bangau dan Kepiting
Dikisahkan, Bodhisattva terlahir sebagai dewa pohon.
Pohon itu tumbuh dekat kolam teratai.
Setiap musim panas tiba, air kolam mengering.
Di dalam kolam itu, tinggal sejumlah ikan.
Saat itu, seekor bangau mengamati.
Ia ingin menyantap ikan-ikan itu.
Bangau mencari akal untuk mewujudkan keinginannya.
Bangau menawarkan kepada ikan-ikan untuk dipindahkan.

Semula ikan-ikan takut menerima tawaran bangau.
Bangau akan memindahkan ikan dengan paruhnya.
Akhirnya, mereka setuju untuk dipindahkan.
Bangau pun memindahkan ikan dengan paruhnya.
Bangau tidak membawa ikan-ikan ke kolam.
Setiap ikan yang dibawa dimakannya.
Demikian seterusnya sampai ikan-ikan habis.

Masih tersisa seekor kepiting di kolam itu.
Bangau juga berniat menyantap kepiting itu.
Bangau menawarkan kepada kepiting untuk dipindahkan.
Kepiting menerima untuk dipindahkan.
Kepiting menjepitkan cangkangnya di leher bangau.
Bangau terbang membawa kepiting.
Bangau berniat memakan kepiting.
Kepiting mengetahui niat bangau yang jahat.
Kepiting melihat duri-duri ikan.
Ia pun meminta bangau turun ke kolam.
Bangau turun ke kolam seperti yang diperintahkan.

Bangau menempatkan kepiting itu di pinggir kolam.
Sebelum turun, kepiting menjepit leher bangau.

Bangau pun mati seketika.


Sumber: Buku SD Kelas II

Supriyadi dan Dinata, P .2014. Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti. Cetakan Ke-1. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Lirik Lagu Buddhis Anak yang Baik

~ Anak yang Baik ~
Cipt. B. Saddhanyano
Anak yang baik
Tiap hari bagun pagi
Tidaklah lupa hari Minggu ke wihara
Anak yang baik
Uang jajan tak dihabiskan
Sebagian disimpan
Sebagian didanakan
Nanti kita jadi kaya
Bisa bangun pagoda yang indah
Bisa juga bangun Wihara yang megah
Nanti kita jadi kaya
Bisa bangun setupa raksasa

Bangun candi paling besar di dunia

Lirik Lagu Buddhis Meditasi

Meditasi
Cipt.: B. Saddhanyano
Tiap hari bermeditasi
Untuk melatih konsentrasi
Pikiran kembangkan cinta kasih
Hati bersih jiwa bersih

Semua bersih

Lirik Lagu Buddhis Avalokitesvara

Avalokitesvara
Cipt. : B. Saddhanyano
Sungguh besar kasih sayangmu
Avalokitesvara
Penolong makhluk di dunia
Jauhkah mara bahaya
Engkaulah, Boddhisatva
Makhluk suci yang slalu dipuji
Engkaulah, Boddhisatva

Siswa Buddha yang baik budinya

Cerita Persahabatan Rusa, Kura-Kura dan Burung Pelatuk (Kurunga Miga – Jataka, 206)

Persahabatan Rusa, Kura-Kura dan Burung Pelatuk
(Kurunga Miga – Jataka, 206)
Dahulu kala Boddhisatva terlahir sebagai seekor Rusa Kurunga.
Rusa Kurunga tinggal di dalam hutan.
Ia memiliki sahabat seekor burung dan kura-kura.
Mereka tinggal bersama dengan akrab.
Suatu ketika, seorang pemburu berkeliling di hutan.
Ia melihat jejak kaki Rusa.
Pemburu memasang perangkap Rusa.
Malam hari, Rusa terjerat di perangkap itu.

Ia berteriak keras dan panjang.
Ia meminta bantuan sahabatnya.
Burung dan Kura-Kura mendengar teriakan Rusa.
Mereka berunding tentang bagaimana menolong Rusa.
Kura-Kura menggigit perangkap untuk membebaskan Rusa.
Burung Pelatuk memastikan pemburu tidak datang.
Kemudian, mereka pergi menuju tempat tinggal pemburu.
Fajar hari, keluarlah si pemburu.
Burung pun langsung menyerangnya.
Pemburu pun sangat kesal.
“Burung pembawa sial menyerangku!” pikir pemburu itu.
Pemburu kembali dan berbaring sebentar.
Pemburu mencoba untuk keluar kembali dari sisi sebelah kiri.
Burung pun langsung menyerangnya lagi.
Pemburu mencoba untuk keluar dari belakang.
Burung langsung menyerangnya lagi.
Pemburu berbaring sampai matahari terbit.
Ketika matahari terbit,
dia membawa pisaunya dan mulai berburu lagi.
Burung Pelatuk segera mendatangi teman-temannya.
Kura-kura telah menggerogoti semua tali kulitnya.
Tertinggal satu yang keras.

Gigi Kura-Kura terluka berlumuran darah.
Kura-Kura sangat lemah dan terbaring di sana.
Sang pemburu memasukkannya ke dalam kantung.
Rusa melihat Kura-Kura tertangkap.
Ia bertekad untuk menyelamatkannya.
Rusa membiarkan pemburu melihatnya.
Ia berpura-pura lemah.
Sang pemburu melihatnya dan mengiranya lemah.
Kemudian, sang pemburu mencabut pisau dan mengejarnya.
Rusa sengaja menjaga jarak.
Dia memancing pemburu masuk ke dalam hutan.
Ketika telah berlari jauh,
Ia meloloskan diri darinya.
Kemudian, Rusa berlari ke arah Kura-Kura.

Rusa mengambil kantong tersebut dengan tanduknya.
Melemparnya ke tanah dan mengoyaknya.
Kemudian, Rusa membiarkan Kura-Kura keluar.
Burung Pelatuk terbang turun dari pohon.
Rusa berkata, “Hidupku telah kalian selamatkan.
Kalian telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan sahabat.
Pemburu akan datang dan memburu kalian.
Jadi, kalian pergilah ke tempat yang aman.”
Pemburu kembali dan merasa gagal.

Ketiga sahabat itu pun hidup tenang.

Sumber: Buku SD Kelas II

Supriyadi dan Dinata, P .2014. Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti. Cetakan Ke-1. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.