This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Saturday, December 5, 2015

Empat Kebenaran Mulia

Empat Kebenaran Mulia

1.    Dukkha
          Dukkha artinya ketidakpuasan. Bud¬dha mengatakan bahwa hidup tidak bisa lepas dari sakit, sedih, dan ke¬cewa. Sakit, sedih, dan kecewa um¬umnya disebut sebagai penderitaan. Semua itu merupakan bentuk ketida¬kpuasan. Apakah ada di antara kalian yang tidak pernah sedih?. Tentu ti¬dak, bukan? Ya, hal itu menandakan bahwa dukkha adalah nyata ada ber¬sama kita. Oleh karena itu, ketika sakit datang, kita harus belajar menerima dan tidak bersedih berlebihan.  
          Terdapat banyak jenis dukkha yang dialami manusia. Namun secara umum dukkha dikelompokkan menjadi dua, yaitu dukkha fisik dan dukkha batin. Dukkha fisik misalnya sakit gigi, sakit kulit, luka, keseleo, terkilir, sakit perut, dan penyakit lainnya. Dukkha batin misalnya kecewa, merasa kesal, merasa kesepian, minder, tidak percaya diri, sedih, dan masih banyak lagi.

     2.    Sebab Dukkha

          Tidak ada satu pun yang terjadi tanpa sebab, demikian juga penderitaan. Contoh-contoh penderitaan yang dijelaskan pada nomor satu di atas juga dapat diketahui sebabnya. Apakah kamu bisa menemukan penyebabnya? Ya, misalnya sakit gigi karena giginya bolong. Gigi bolong karena malas gosok gigi. Sakit kulit bisa karena malas mandi atau mandinya tidak bersih, dan seterusnya. Lalu, bagaimana halnya dukkha batin? Apakah dapat ditemukan sebabnya? Tentu, bisa. Untuk itu, simak cerita singkat berikut ini. “Pada setiap perayaan tahun baru, Ani biasanya mendapat “Ang Pau” atau persenan uang dari kedua orang tuanya. Uang persenan tersebut biasanya berjumlah banyak. Setahun kemudian, hari yang ditunggu pun datang, yaitu perayaan tahun baru. Adi pun mempunyai keinginan berupa harapan mendapatkan uang yang banyak dari kedua orang tuanya. Tanpa sepengetahuan Adi, ternyata usaha orang tuanya sedang mengal¬ami kesulitan sehingga tidak mung¬kin memberikan persenan tahun baru seperti biasanya. Orang tua Adi hanya bisa memberikan persenan sedikit. Tentu hal ini membuat Adi tidak puas sehingga kecewa dan sedih. Seba¬liknya berbeda dengan Rudii yang ti¬dak pernah berharap mendapatkan ini dan itu dari orang tuanya, sehingga Rudi pun tidak pernah merasa kecewa dan sedih ketika orang tuanya tidak mampu memberikan persenan yang besar”.
          Berdasarkan cerita di atas, Adi sedih dan kecewa sesungguhnya bukan karena besar kecilnya persenan uang, tetapi karena Adi mempunyai keinginan mendapatkan persenan yang besar dan keinginan itu tidak terpenuhi. Jika Adi tidak berharap, dan ayahnya hanya mampu memberikan pesanan yang kecil, Adi tidak akan sedih dan kecewa.
     
     3.    Berakhirnya Dukkha

          Berakhirnya dukkha terjadi ketika munculnya kebahagiaan. Buddha mengajarkan juga, bahwa setiap orang bisa bahagia. Apakah kamu juga ingin hidup bahagia? Ya, ten¬tu kita semua mengiginkan hidup yang bahagia. Akan tetapi, apakah bahagia itu? Secara umum, orang merasa bahagia ketika keinginan¬nya terpenuhi. Terpenuhinya ke¬inginan memang menyenangkan, misalnya merayakan ulang tahun bersama orang yang dicintai. Namun me¬miliki keinginan yang berlebihan menyebabkan penderitaan.
          Berakhirnya dukkha apabila tercapai Nibbana. Kebahagiaan tertinggi dalam agama Buddha dinamakan Nibbana. Oleh karena itu, Nibbana menjadi tujuan terakhir umat Buddha. Sebelum meraih kebahagiaan tertinggi, kita juga bisa meraih kebahagiaan yang lain. Dalam kitab suci Anguttara Nikaya, Buddha menjelaskan ada empat kebahagiaan yang bisa diraih, yaitu bahagia karena memiliki kekayaan, bisa menikmati kekayaannya, tidak memiliki hutang, dan memiliki perilaku yang baik.
          Perilaku yang baik sesungguhnya adalah sumber kebahagiaan yang paling penting. Berperilaku yang baik memungkinkan tiga jenis kebahagiaan lainnya dapat tercapai. Memiliki uang dan harta, tetapi jika perilakunya buruk, uang dan harta akan sulit dicapai. Karena bekerja di mana pun dibutuhkan orang-orang yang baik yang bisa dipercaya. Demikian juga orang yang perilakunya baik akan dipercaya jika dia memerlukan hutang untuk mengatasi kesulitannya. Jadi, berhutang pun harus didukung oleh perilaku yang baik.

     4.    Cara Mengakhiri Dukkha

          Cara untuk mengakhiri dukkha dan meraih kebahagiaan (Nibbana) adalah dengan menjalani hidup den¬gan benar. Menjalani hidup yang benar ada tiga ciri, yaitu memiliki Sila, Samadhi, dan Panna. Memiliki Sila artinya ia mampu berucap, ber¬buat, dan bekerja yang benar. Memi¬liki Samadhi artinya ia mampu selalu sadar dan fokus pada kebaikan yang dilakukan. Memiliki Panna artinya ia mampu menjadi bijaksana, yaitu bisa berpikir dan berpengertian benar.
          Rajin belajar adalah contoh cara hidup yang benar bagi seorang pelajar. Dengan rajin belajar, kesulitan bisa diatasi. Jika rajin belajar, setiap orang bisa berprestasi. Ramah tamah dan tidak sombong adalah cara hidup benar agar memiliki banyak teman. Menjaga kebersihan badan serta pakaian adalah cara hidup benar agar memiliki kesehatan yang baik dan lain sebagainya Kalian dapat menemukannya sendiri.

Rangkuman
          Empat Kebenaran Mulia adalah pokok ajaran Buddha yang dibabarkan pada kotbah-Nya yang pertama kali di Taman Rusa Isipatana kepada Lima Orang Petapa yang disebut Dhammacakkappavattana Sutta.
          Empat kebenaran tersebut dapat diringkas menjadi dua yaitu: 1) penjelasan tentang kebahagiaan dan cara mencapainya, 2) penjelasan tentang ketidak¬bahagiaan dan penyebabnya. Manusia bisa berbahagia jika hidup dijalani dengan benar dengan melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Manusia tidak bahagia selama hidupnya jika dia dikuasai dan menuruti keinginannya yang didasari oleh kebodohan.

Buddha mengajarkan tentang empat fakta hidup yang tidak bisa dibantah
dalam Dhammacakkappavattana Sutta, yaitu:
·         Hidup bisa bahagia
·         Ada cara untuk bahagia
·         Fakta bahwa hidup bisa menderita
·         Ada sebab penderitaan

Thursday, December 3, 2015

I Am Buddhist







Petapa Siddharta dan Mara Penggoda

Petapa Gotama Berguru

Petapa Siddharta Menyiksa Diri

Lima Hukum Tertib Alama (Panca Niyama)

Aplikasi Jalan Mulia Berunsur Delapan Dalam Kehidupan Sehari-Hari

APLIKASI JALAN MULIA BERUNSUR DELAPAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI









Semoga bermenfaat bagi kita semua sadhu-sadhu-sadhu....